Namanya Pak Hadi, 67 tahun, pensiunan guru SMP dari Malang. Kami bertemu di sebuah warung kopi di Sembalun, Lombok Timur, awal tahun lalu. Dia sedang menyeruput kopi hitam sambil menatap Gunung Rinjani yang pagi itu bersih tanpa awan. Saya duduk di sebelahnya, dan tanpa saya tanya, dia mulai bercerita.
"Saya ke sini tiga bulan, Nak. Nggak nginep di hotel mahal. Saya sewa kamar penduduk, 1,5 juta sebulan. Tiap pagi saya duduk di sini, jam lima, lihat matahari muncul dari balik punggung Rinjani."
Saya yang waktu itu baru dua hari di Sembalun, langsung merasa bodoh. Saya datang jauh-jauh dari Jakarta, buru-buru naik jeep ke Danau Segara Anak, foto-foto, lalu pulang. Pak Hadi? Dia tinggal. Dan dia dapat sesuatu yang tidak saya dapat.
Kenapa Saya Akhirnya Ikut Tinggal Lebih Lama
Rencana awal saya cuma tiga hari di Lombok. Naik Rinjani sampai Pelawangan, turun, lanjut ke Gili. Standar. Tapi ngobrol sama Pak Hadi mengubah segalanya.
Dia bilang satu kalimat yang masih saya ingat sampai sekarang: "Waktu itu satu-satunya barang yang makin banyak kamu pakai, makin murah harganya. Kenapa kita buru-buru menghabiskannya?"
Orang muda mengejar destinasi. Orang tua, kalau sudah sadar, mengejar suasana. Dan suasana tidak bisa dikejar.
Saya batalkan tiket ke Gili. Saya sewa kamar di rumah Bu Sari, sebelah warung tempat Pak Hadi sarapan. Seratus ribu semalam, kasur tipis, mandi pakai gayung, sinyal kadang hilang. Tapi pemandangannya... ya ampun. Dari jendela kamar, saya bisa lihat sawah bertingkat dan di belakangnya Rinjani berdiri seperti raksasa yang sedang tidur.
Tiga minggu saya di sana. Bukan tiga hari. Dan itu jadi tiga minggu paling berharga dalam hidup saya sebagai orang yang menginjak usia 60-an.
Hal-Hal Kecil yang Justru Jadi Alasan Saya Betah
Kalau kamu tanya apa yang saya lakukan selama tiga minggu di Sembalun, jawabannya membosankan. Dan itu justru intinya.
- Jam 5 pagi: duduk di teras, nonton matahari naik. Tiap hari. Nggak pernah bosan.
- Jam 7: sarapan ubi rebus dan kopi di warung Bu Sari. Ngobrol sama petani yang baru pulang dari ladang.
- Jam 9 sampai 11: jalan kaki ke kebun stroberi, kadang bantu memetik. Dibayar? Nggak. Tapi dapat sekilo stroberi segar.
- Siang: tidur. Serius, tidur siang di Sembalun itu nikmatnya bukan main. Udara dingin, sunyi, cuma ada suara angin.
- Sore: jalan ke Bukit Pergasingan. Nggak sampai puncak, cuma sampai punggung bukit pertama. Duduk, lihat awan turun.
- Malam: makan sama keluarga Bu Sari. Kadang plecing kangkung, kadang ayam bakar. Ngobrol sampai jam sembilan, lalu tidur.
Nggak ada itinerary. Nggak ada target foto. Nggak ada "harus ke sini, harus ke sana". Dan justru itu yang bikin saya merasa hidup lagi.
Pelajaran soal kesehatan yang tidak saya duga
Saya punya darah tinggi. Sudah sepuluh tahun minum amlodipine tiap hari. Selama di Sembalun, saya lupa minum obat dua kali. Bukan karena sengaja. Tapi karena saya nggak merasa ada yang salah.
Tekanan darah saya turun. Dari 150/95 jadi 130/85. Saya cek di puskesmas kecamatan, gratis. Perawatnya bilang, "Bapak jalan kaki terus ya?" Iya. Tiap hari. Nggak pernah saya sebut olahraga. Cuma jalan ke kebun, ke bukit, ke warung. Tapi totalnya enam sampai delapan kilometer sehari.
Di Jakarta, saya jalan 500 meter saja sudah ngos-ngosan. Di Sembalun, saya jalan dua jam tanpa sadar.
Yang Saya Sesali: Tidak Melakukannya Lebih Cepat
Selama 35 tahun mengajar, saya selalu bilang ke diri sendiri: "Nanti kalau pensiun, baru jalan-jalan." Dan saya bayangkan "jalan-jalan" itu artinya keliling Eropa, naik kapal pesiar, atau minimal ke Jepang lihat sakura.
Ternyata yang saya butuhkan bukan itu.
Yang saya butuhkan adalah tempat di mana saya bisa berhenti jadi "Pak Hadi yang pensiunan" dan mulai jadi "Pak Hadi yang duduk di teras sambil minum kopi". Dua hal yang jauh berbeda.
Kalau kamu sekarang masih kerja, masih sibuk, masih merasa "nanti saja kalau longgar", saya mau kasih tahu satu hal: waktu longgar itu tidak datang sendiri. Kamu harus menciptakannya. Dan sering kali, menciptakannya berarti berani bilang tidak pada hal-hal yang sebenarnya tidak penting.
Pak Hadi bilang lagi satu hal yang saya catat di buku kecil saya: "Saya nggak menyesal nggak ke Eropa. Saya menyesal nggak ke Sembalun lebih awal. Karena di sini saya baru tahu, ternyata saya bisa bahagia cuma dengan duduk diam."
Kalau Kamu Mau Coba, Ini yang Perlu Kamu Tahu
Saya bukan agen travel. Saya cuma orang yang pernah tinggal di sana dan ingin kamu merasakan hal yang sama. Jadi ini catatan praktis dari pengalaman, bukan promosi.
- Musim terbaik: April sampai September. Di luar itu hujan, dan Rinjani sering tertutup awan.
- Transportasi: dari Bandara Lombok ke Sembalun sekitar 2,5 jam. Bisa sewa mobil, sekitar 400-500 ribu sekali jalan.
- Penginapan: homestay penduduk mulai 100-200 ribu per malam. Kalau sebulan, bisa nego jadi 1,5-2 juta.
- Makan: 15-25 ribu sekali makan. Masak sendiri lebih murah, tapi ngobrol sama keluarga pemilik homestay itu bagian dari pengalamannya.
- Obat-obatan: bawa stok pribadi. Puskesmas ada, tapi jangan harap lengkap seperti di kota.
- Sinyal: kadang hilang. Anggap ini bonus, bukan masalah.
Yang paling penting: jangan bawa ekspektasi "harus naik Rinjani". Kalau badanmu sudah nggak kuat, nggak perlu. Duduk di bawah, lihat dari jauh, itu sudah cukup. Rinjani nggak akan marah.
Pulang dengan Tas Lebih Ringan
Waktu saya pulang ke Malang, tas saya lebih ringan dari waktu berangkat. Bukan karena saya beli apa-apa. Tapi karena saya buang banyak hal: baju yang nggak perlu, sepatu yang nggak dipakai, dan yang paling penting, ekspektasi bahwa pensiun harus diisi dengan hal-hal besar.
Sekarang, tiap pagi, saya masih sarapan sambil melihat pemandangan. Bukan Rinjani, tapi pohon mangga di belakang rumah. Dan entah kenapa, rasanya sama.
Mungkin itu yang Pak Hadi maksud. Bukan tentang Rinjani. Tentang belajar duduk diam.
Kalau kamu punya waktu sebulan dan badan masih kuat jalan kaki, cobalah Sembalun. Nggak perlu rencana macam-macam. Pesan kamar, bawa obat, datang. Sisanya biar tempat itu yang mengajarkan.