Senin, 19 Oktober 2026 Berita Terkini & Terpercaya
alemizmir.comalemizmir.com
alemizmir.com - Your source for the latest articles and insights
Beranda › Jangan Cuma Lihat Pemandangan: Warga Kampung Bisa ...

Jangan Cuma Lihat Pemandangan: Warga Kampung Bisa Untung dari Desa Wisata

Desa wisata sering dikira cuma soal pemandangan. Padahal ada sisi lain yang jarang dibahas dan justru bisa mengubah hidup warga kampung.

Jangan Cuma Lihat Pemandangan: Warga Kampung Bisa Untung dari Desa Wisata

Kalau kamu tinggal di kota kecil atau desa, mungkin pernah dengar istilah "desa wisata" atau "pokdarwis". Biasanya yang dibayangkan langsung soal pemandangan sawah, jalan setapak, atau spot foto di atas bukit. Padahal, ada satu hal yang jarang dibahas orang, padahal justru paling menentukan: siapa yang sebenarnya pegang kendali atas uang yang masuk.

Gue pernah ikut ngobrol sama beberapa pengelola desa wisata di Jawa Tengah dan Nusa Tenggara Barat. Hampir semua cerita awalnya sama. Ada tamu datang, foto-foto, pulang. Uang masuk ke kas desa atau ke satu dua orang yang punya homestay. Warga lain cuma jadi penonton. Padahal merekalah yang punya kebun, ternak, dan dapur.

Yang Jarang Dibahas: Rantai Pengeluaran Tamu

Ini yang bikin gue agak gemas. Banyak desa sibuk bikin gapura dan papan nama, tapi lupa mikir ke mana uang tamu bakal berputar. Padahal kalau dipetakan, pengeluaran tamu itu panjang banget: transportasi, makan, jajanan, oleh-oleh, jasa pemandu, sampai sewa alat.

Kalau rantai ini tidak disiapkan, tamu datang bawa uang, lalu uangnya cuma mampir sebentar. Makan di warung milik orang luar, nginep di penginapan milik investor kota, oleh-oleh beli di minimarket. Warga kampung cuma dapat sampah dan macet.

Desa wisata yang sehat bukan yang paling ramai tamunya, tapi yang paling banyak warganya ikut kecipratan rezeki.

Makanya, sebelum sibuk promosi, ada baiknya warga dan pengurus desa duduk bareng. Bikin daftar sederhana: tamu biasanya butuh apa saja selama di sini, dan siapa warga yang bisa menyediakan. Dari situ kelihatan celah mana yang harus diisi.

Contoh Kecil yang Berdampak Besar

Di satu desa yang gue kunjungi, mereka nggak punya homestay bagus. Tapi mereka punya ibu-ibu yang jago bikin kue tradisional. Akhirnya kesepakatannya simpel: setiap tamu yang ikut trekking dapat satu paket kudapan pagi dari warga. Ibu-ibu dapat penghasilan tambahan, tamu senang, dan cerita soal kue itu jadi bahan promosi gratis.

Desa lain bikin kesepakatan soal parkir dan pemandu. Semua tamu wajib pakai pemandu lokal, dan pemandunya digilir dari warga yang sudah dilatih. Hasilnya, nggak ada satu orang yang monopoli. Semua kebagian jadwal.

Ada juga yang memanfaatkan hal yang dianggap sepele. Misalnya, tamu kota yang kangen suasana kampung biasanya senang diajak ke kebun, ikut memetik sayur, atau belajar bikin sesuatu. Kegiatan begini nggak butuh modal besar, tapi butuh warga yang mau terlibat dan sedikit dilatih cara menyambut tamu.

Hal yang Sering Kelewat

  • Data tamu. Banyak desa nggak mencatat siapa yang datang dan dari mana. Padahal data ini penting buat tahu tamu potensial dan bahan negosiasi ke pihak lain.
  • Kesepakatan harga. Kalau nggak ada kesepakatan, harga jasa dan makanan bisa saling banting, akhirnya semua rugi.
  • Pelatihan singkat. Nggak perlu kursus mahal. Cukup belajar cara menyapa, kebersihan, dan komunikasi dasar sama tamu.
  • Kebersihan dan sampah. Ini sering diremehkan. Tamu nggak akan balik kalau desanya kotor.

Gue jujur aja, nggak semua desa cocok jadi desa wisata. Kadang yang dibutuhkan bukan itu. Tapi kalau memang ada potensi dan warga mau, langkah kecil di atas jauh lebih berguna daripada bikin bangunan besar yang akhirnya mangkrak.

Mulai dari Skala Kecil, Jangan Malu

Nggak usah mikir langsung penginapan bintang lima. Mulai dari yang ada: satu paket makanan, satu jalur jalan kaki, satu pemandu. Kalau tamu puas, mereka akan cerita ke orang lain. Dari mulut ke mulut inilah yang biasanya paling ampuh buat desa kecil.

Yang penting, warga dilibatkan sejak awal. Jangan cuma jadi penonton di kampung sendiri. Libatkan ibu-ibu, pemuda, petani, bahkan kakek-nenek yang punya cerita sejarah kampung. Cerita mereka sering jadi daya tarik yang nggak bisa ditiru desa lain.

Jadi, kalau kamu tinggal di desa atau kota kecil dan mulai banyak tamu datang, jangan cuma sibuk selfie. Duduk bareng, petakan uangnya, bagi perannya. Wisata bukan soal pemandangan saja, tapi soal bagaimana rezeki itu berputar dan tinggal di kampungmu.

Tags: desa wisata ekonomi warga pariwisata lokal potensi desa perjalanan Indonesia

Baca juga: Uang Saku Aman, Anak Tetap Riang: Trik Ibu Rumah Tangga Jalan-Jalan ke Bali

Baca juga: Weekend Singkat: Bali vs Lombok Buat Kabur Sejenak dari Kantor